Serius di Era Social Media


Serius di Era Social Media

Oleh:
Randi Tiyudanto*)

Deretan linimasa saya mendadak berubah. Dalam kurun waktu hampir satu bulan terakhir, saya perlu sedikit memicingkan mata untuk membacanya. Munculnya kata-kata aneh, seperti: ‘ciyus,’ ‘miapah’ cukup mengherankan dan membuat saya menghela nafas sejenak. Hal tersebut memang bukan sesuatu yang baru di ranah jejaring sosial.

Seringkali, kosakata-kosakata baru bermula dari sini, melalui obrolan singkat ngalor-ngidul. Tak banyak yang memahami, kecuali mereka yang tergabung dalam komunitas sang pencetus kata tersebut. ‘Ciyus’di sini merujuk pada kata ‘serius,’ biasanya dibubuhi tanda tanya di belakangnya. Entah kenapa, mungkin saking tidak dapat dipercayanya kah sebuah status di social media? Sedangkan, kata ‘miapah’ lebih menonjolkan kepada tingkat keseriusannya. Kata asli yang dimaksud adalah “demi apa?”

Setelah mengetahui maknanya, sebagian dari Anda mungkin terpingkal-pingkal karena merasa hal ini hanyalah sebuah guyonan. Atau justru menggelengkan kepala karena tidak habis pikir? Bahkan, jika kita menoleh sedikit ke belakang. Beberapa tahun belakangan, kata ‘nggerus’ dan ‘galau’ pun sempat muncul ke permukaan, ungkapan yang terlanjur latah digunakan bagi mereka yang sedang patah hati. Lagi-lagi, ungkapan tersebut pun dimulai dari dunia maya.

Dikarenakan kecenderungan para tweeps –sebutan untuk twitter user pun hanya sekedar untuk lucu-lucuan belaka, maka bukan mustahil jika para praktisi dunia maya memprediksi popularitas kata-kata ini bakal kian meroket. Terlebih jika seorang tokoh atau figur publik yang melontarkan kata-kata tersebut. Misalnya saja, iklan produk operator seluler kenamaan yang telah muncul di televisi.

Berbeda dari periode sebelumnya, kata-kata yang mendadak popular itu biasanya muncul satu persatu, seperti kata ‘nggerus’ tadi. Namun kini, mereka muncul bersamaan. Tidak kaget, mengingat mereka masuk dalam kelompok prokem, kosakata nonformal atau bahasa gaul yang kemunculannya memang secara tiba-tiba dan akan segera redup ketika kosakata yang baru kembali muncul.

Kata-kata tersebut seolah memiliki korelasi yang cukup erat dengan berbagai realitas yang terjadi di negeri ini. Sebut saja isu rencana pelemahan KPK sehingga memicu babak baru dari konflik yang pernah melibatkan dua institusi penegak hukum negeri ini yang terkenal dengan istilah Cicak vs Buaya. Memasuki ronde kesekian, banyak pihak menyayangkan egoisme kedua lembaga tersebut hanya karena merasa lebih berwenang dalam menangani kasus dugaan suap pengadaan alat simulasi kemudi di Korps Lalu Lintas Markas Besar POLRI.

Belum lagi, kasus kekerasan terhadap wartawan yang sedang meliput tragedi kecelakaan pesawat TNI-AU di Riau. Bukan yang pertama kali terjadi. Peristiwa memalukan ini kian memperburuk citra mereka di mata masyarakat.

Rakyat terlampau muak dengan dusta-dusta pemerintah yang dibalut sikap prihatin tanpa tindakan nyata yang untuk mengubah keadaan. Jika terus-menerus begini, pantas saja rakyat Indonesia mencari-cari, “Presiden Ke Mana?”

 

*) Kepala Bidang Jaringan Kerja LPM PROFESI Periode 2010-2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s