Revolusi Geng Motor


Oleh:
Randi Triyudanto

ilustrasi: MI

Usia remaja memang masanya pencarian jati diri. Tak jarang di antara mereka yang kebanyakan masih duduk di bangku sekolah ingin mencoba hal-hal baru. Tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya, mereka hanya ingin tampil dan dilihat orang. Berangkat dari kegemaran yang sama, mereka mulai membentuk komunitas-komunitas. Tak banyak memang jumlahnya, tapi keberadaan mereka juga tak bisa diremehkan.

Saat usia SMP, misalnya, kala itu di kalangan rekan-rekan saya sudah ada geng motor. Beranggotakan rekan sejawat, mereka bergerombol menuju ke suatu tempat. Pergi ke sekolah secara bersama-sama dengan mengendarai sepeda motor. Saat jam istirahat, nongkrong bareng di kantin menjadi hal wajib. Dan sepulangnya dari sekolah, mereka kembali berkumpul lagi di suatu tempat. Awalnya hanya berniat untuk sekedar berjalan-jalan hingga akhirnya mulai kebut-kebutan.

Bagi mereka yang sudah mengenal geng motor sejak dini, memiliki kecenderungan untuk melanjutkannya saat menginjak SMA. Banyaknya teman baru, pergaulan yang terus meluas, hingga persoalan eksistensi mendorong hasrat yang semakin kuat.

Balapan, menjadi hal lumrah yang tak boleh ditinggalkan sepulang sekolah. Kawasan pemukiman yang sepi hingga jalan raya disulap menjadi ajang lintasan mereka. Protes dari warga sekitar bukannya tidak ada, kekhawatiran amuk geng motor membuatnya tak bisa lantang terdengar. Laporan kepada Polisi menjadi bekal untuk digelarnya razia trek-trekan liar. Volume aksi yang sering terjadi membuat anggota geng motor sudah biasa menjadi langganan diciduk Polisi. Bahkan, aparat yang menangani mereka terkadang sampai jenuh memberi peringatan untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya yang bisa membahayakan nyawa tersebut.

Namun sayangnya, razia geng motor tak selamanya ampuh. Bukan sedikit dari kalangan mereka yang mencoba melakukan perlawanan, baik aparat maupun masyarakat sipil. Mereka murka kepada siapa saja yang -diduga menghalangi aksi mereka. Entah dirasuki setan apa, mereka kini tak sekedar geng motor yang hobi ugal-ugalan dan balapan liar di jalan, tetapi juga sudah mulai menjurus ke tindakan kriminal.

Seperti yang terjadi pada salah seorang anggota TNI di Jakarta, akhir Maret silam. Ia menjadi korban pengeroyokan hingga meninggal dunia oleh anggota geng motor yang hendak memulai balapan. Padahal, Arifin, nama anggota TNI tersebut, hanya berniat melerai pertengkaran yang terjadi antara sopir truk dan pengendara minibus yang sedang ribut di dekat garis start pada kawasan yang akan digunakan sebagai lintasan balap liar oleh geng motor.

Seolah tak ada yang tak mungkin terjadi di Republik ini, bahkan kini muncul Geng Motor Rambut Cepak. Bersenjata balok, tongkat bambu, besi dan pedang samurai. Mereka –yang hampir semua bermbut cepak juga membakar dua sepeda motor. Dari ciri-ciri yang disebutkan –menurut para saksi, mereka mungkin anggota TNI.

Dengan motif balas dendam dan rasa persaudaraan yang kuat di kalangan mereka, bukan mustahil memang. Tentu saja terasa janggal, karena institusi yang seharusnya menjaga stabilitas Negara justru mengguncangnya dengan ulah mereka sendiri. Hal tersebut –secara otomatis akan semakin mencoreng nama baik institusi dan menambah buruk citra mereka di mata masyarakat.

Sudah saatnya Negara bertindak cepat dalam mengusut tuntas tindak kejahatan yang melibatkan anggota TNI. Buktikan bahwa Reformasi Birokrasi bukan sekedar omong kosong belaka. Dan Presiden, harus berhenti mengurusi pencitraan di depan rakyat sendiri.

Download Revolusi Geng Motor (versi PDF)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s