Cerita madre (1)


Puluhan buku tersusun rapi terpajang di bagian rak “New Release” Toko Buku Togamas.

Mataku-dan siapa pun pengunjung yang datang ke sana pun hampir pasti akan langsung menatap tumpukan tersebut karena diletakkan dekat pintu masuk. Sepertinya memang sengaja untuk menarik perhatian pengunjung.

madre – kumpulan cerita, begitu judul buku itu terbaca dari kejauhan. Pada bagian bawah buku itu tertulis ‘DEE’. Tanpa perlu didekati, saya sudah tahu itu adalah buku terbaru dari sang Supernova: Dewi Lestari–yang juga tidak lain adalah seorang penyanyi.

Ini bukan kali pertama saya pergi ke toko buku, tetapi tidak tahu kenapa, buku ini begitu mencuri perhatian. Biasanya, saya tidak terlalu tertarik dengan Novel dan/ atau sejenisnya. Saya lebih senang membeli buku yang bersifat tutorial, seperti literatur kuliah, dsb. Saya pun mencoba cuek dan kembali mengingat tujuan semula.

“Jangan Tulis Kami Teroris” karya Linda Christanty lah buku yang saya cari sebenarnya kala itu. Sengaja memang saya membeli setelah lebaran, karena baru cukup uang, hehehe… Dengan langkah pasti saya menuju komputer informasi untuk mencari tahu di mana letak buku yang saya cari berada. Hasilnya? Nihil. “MAAF, BUKU YANG ANDA CARI HABIS.” Demikian tulisan yang tertera di layar komputer tersebut.

Tanpa memusingkan hal tersebut, saya mencoba mencari lagi sebuah judul lain yang juga membuat saya penasaran akan isinya, “Meraba Indonesia” karya Ahmad Yunus. Keberadaan buku tersebut belakangan saya ketahui setelah sebelumnya mengikuti acara diskusi bedah buku sederhana yang diprakarsai oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

Saya bisa mendapat undangan tersebut karena aktif sebagai pengurus di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Yogyakarta. Lumayan, kan..? 🙂

Tetapi, lagi-lagi hasil yang saya dapat sama saja, buku yang saya cari tidak dijual di toko tersebut.

Daripada pulang dengan tangan hampa, sebuah kebiasaan (sangat) lazim bagi saya tiap kali mengunjungi toko buku. Tiba-tiba saya tertarik untuk kembali ke rak bagian depan, tempat yang pertama saya lihat ketika datang ke toko. Ya, saya teringat kembali akan buku ‘madre’ tadi.

Tanpa pikir panjang (baca: sebuah pertaruhan besar), saya memutuskan untuk membeli buku Madre karya Dee.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s