Empat Poin Penting dalam Praktik Jurnalisme Baru


Konsep mengenai jurnalisme masa kini merupakan buah refleksi serius atas kejenuhan dalam  pemberitaan media massa. Baik itu yang dimediasi oleh koran, radio, atau televisi. Rasa “jenuh” ini muncul karena berita-berita selama ini yang terlalu mengeksploitasi hal-hal yang ditakuti oleh masyarakat. Misalnya, tindak korupsi para pejabat negara, bencana kelaparan, sampai kasus-kasus kriminal yang tidak mengenakkan dilihat. Tidak hanya itu, dalam cara penyampaiannya yang terlalu menekankan pada fakta-fakta obyektif, sehingga berita terasa kering, membuat dahi mengerut, dan tidak mengasyikkan untuk disimak. Bahkan, lebih baik membaca novel daripada berita. Namun, di sisi yang berbeda, kebutuhan masyarakat terhadap informasi adalah keniscayaan.

Di sinilah tantangan bagi gerakan jurnalisme baru ini, yakni bagaimana membuat berita terasa mengasyikkan seperti membaca novel atau menonton film. Namun tetap mengedepankan fakta-fakta lapangan, bukan mengaburkannya dengan realita fiktif.

Pertama, scene by scene construction, seperti penyajian  film. Cara pemberitaan disusun berdasarkan jalinan tiap adegan. Jadi, audiens bisa memahami perubahan cerita tanpa harus dijelaskan secara eksplisit.

Kedua, dialogue. Berita merupakan rekaman dialog yang dituturkan sekomplit mungkin. Dengan dialog, audiens bisa mengetahui karakter narasumber tanpa reporter menyebutkan, apakah narasumber itu seorang pemarah, intelektual, dan sebagainya.

Ketiga, The third person. Artinya seorang jurnalis sebisa mungkin menjadi orang yang terlibat dalam sebuah peristiwa. Sekaligus mampu bercerita melalui sudut pandang berbeda yang kaya informasi. Ketika menempatkan posisi sebagai orang ke tiga, cerita akan menjadi lebih hidup karena peran jurnalis adalah saksi mata peristiwa (eyewitness).

Keempat,  status details. Ini berarti seorang jurnalis harus mencatat tiap detail status narasumber, peristiwa, dan berbagai hal dalam laporan. Misalnya, mendeskripsikan lokasi, jurnalis bisa melaporkan bagaimana bentuk bangunannya, rancangan arsitekturnya, maupun kondisi di sekitar lokasi. Keempat elemen ini diharapkan mampu melengkapi prinsip 5W+1H yang merupakan pedoman baku bagi para jurnalis saat meliput dan melaporkan kejadian supaya terasa lebih berwarna.

Source:

http://parapenuliskreatif.wordpress.com/2010/05/25/jurnalisme-masa-kini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s