Kisruh HMI-POLISI


Di tengah-tengah ramainya pemberitaan mengenai hasil Rapat Paripurna DPR terkait kasus bail-out Bank Century di negeri ini, tiba-tiba saja publik dikejutkan dengan kerusuhan yang terjadi di daerah Makassar, Sulawesi Selatan. Kerusuhan tersebut terjadi antara pihak organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dan aparat Kepolisian setempat. Memang tidak bisa dipungkiri juga bahwa keributan tersebut terjadi sebagai tindak lanjut aksi demo saat Sidang Paripurna DPR 2-3 Maret silam. Kejadian tersebut bermula karena kantor sekretariat HMI diserang dan dirusak oleh sejumlah oknum tidak dikenal. Tidak hanya itu, beberapa aktivis HMI juga ada yang menjadi korban pemukulan. Belakangan diketahui pelaku tindakan tidak terpuji tersebut adalah polisi berpakaian preman.

Aksi balas dendam pun dilakukan. Aktivis HMI lain yang tidak terima atas tindakan yang dilakukan aparat Kepolisian balik menyerang salah satu pos polisi. Mereka melakukan hal serupa seperti para polisi yang telah merusak kantor Sekretariat HMI. Para mahasiswa menghujani pos polisi dengan lemparan batu hingga menyebabkan kaca pos polisi tersebut pecah dan berserakan ke tanah.

Tidak hanya di Makassar. Atas dasar rasa solidaritas, HMI di beberapa kota besar juga melakukan aksi demonstrasi yang mengecam tindakan aparat polisi di Makassar. Di antaranya di Pekanbaru, Medan, Cianjur dan yang terbaru di daerah Cikini, Jakarta.

Khusus di Jakarta, mahasiswa memaksa masuk ke dalam MABES POLRI untuk bertemu Kapolri. Dalam tuntutannya, para mahasiswa mendesak Kapolri untuk segera mencopot Kapolda Sulawesi Selatan.

Namun, bukan demonstrasi namanya jika tidak ricuh. Beberapa aksi solidaritas HMI di luar kota Makassar pun hamper semuanya berujung dengan keributan Mahasiswa vs Polisi.

Selalu begitu, entah siapa yang memulai duluan, keributan antara mahasiswa dan aparat keamanan sudah hampir pasti terjadi dalam setiap aksi unjuk rasa. Dalam hal ini, jelas mahasiswa yang berada di pihak kebenaran. Wajar saja, siapa yang tidak marah jika rekannya diserang dan dilukai? Meskipun tidak langsung mengenai dirinya, tetapi rasa persaudaraan dan kesetiakawanan mahasiswa sangatlah tinggi. Demikian pula dengan rasa saling memiliki. Jika kantor Sekretariat yang dirusak di Makassar, maka yang timbul kemarahannya hamper di seluruh Indonesia, dan hal itu sudah terbukti sekarang. Jadi, jangan coba-coba melawan mahasiswa sebagai pelopor pergerakan perubahan.

Bookmark and Share
Advertisements