Masjid Besar Mataram KOTAGEDE


Mumpung masih dalam suasana magang, jadi saya mau sedikit berbagi dengan rekan-rekan di LPM PROFESI yang saat ini sedang menjalani proses tersebut. Berikut ini adalah tulisan saat saya meliput untuk News Letter 3 bersama rekan saya, Cendika, atau yang lebih akrab disapa Miko. Kala itu kami diharuskan untuk berkunjung ke daerah KOTAGEDE. Berita yang kami angkat adalah mengenai Masjid Besar Mataram KOTAGEDE.

Umumnya, ketika pertama kali mendengar nama Masjid Agung pasti banyak di antara kita yang langsung beranggapan bahwa bangunannya terletak di tengah-tengah kota atau dekat dengan alun-alun. Tetapi, rupanya, tidak selamanya Masjid Agung atau Masjid Besar berada di tengah pusat keramaian. Misalnya saja, masjid yang satu ini. Masjid Besar Mataram Kotagede. Ya, masjid yang mengambil nama dari nama daerah yang asal katanya Kuto Gede ini letaknya benar-benar jauh dari pusat keramaian kota. Bahkan, siapa yang menyangka bahwa pada kenyataannya di lapangan, masjid ini dibangun dekat dengan daerah pasar? Dan, karena hal tersebut pula lah yang menyebabkan jalan akses untuk masuk ke dalam komplek masjid ini akan sedikit lebih sulit, terlebih lagi jika kondisi pasar sedang ramai.

Masjid yang pembangunannya dirintis oleh Danang Sutowijoyo ini terletak masih satu komplek dengan makam raja-raja Mataram dan dilindungi oleh pagar tembok yang desainnya masih mengandung unsur budaya Hindu yang mirip dengan Pura.

Masjid ini juga sudah pernah mengalami dua kali renovasi atau perbaikan. Penyebabnya adalah karena gempa dahsyat yang sempat mengguncang Yogya pada waktu itu. Dan dalam kurun waktu tersebut salah satu yang mengalami kerusakan paling parah adalah bagian atap. Sebelum terjadi gempa, atapnya dahulu terbuat dari kayu. Sedangkan sekarang sudah diganti oleh genteng yang juga merupakan hibah dari donatur.

Sedangkan untuk arsitekturnya sendiri, masjid ini sudah terlihat lebih modern, namun juga masih ada beberapa bagian yang tetap dipertahankan dari bentuk aslinya, seperti pintu bagian samping masjid yang terbuat dari kayu jati asli, misalnya.

Hal tersebut mengingat masjid ini masih menjadi bagian dari peninggalan sejarah Kerajaan Mataram yang kini sudah dijadikan Cagar Budaya oleh Pemerintah Daerah setempat. Hal tersebut ditandai dengan dibangunnya Tugu Paku Buwono X di lingkungan luar masjid.

Di bagian dalam masjid pun kita masih bisa melihat rupa tembok asli masjid ketika pertama kali dibangun. Dalam proses pembangunannya, tembok batu bata ini belum menggunakan bahan perekat semen seperti sekarang, tetapi masih menggunakan bahan campuran antara tanah liat dan cairan yang terbuat dari daun pohon kapuk, dan rupa tembok asli tersebut terletak di bagian samping dalam masjid dan dilindungi oleh sebuah bingkai.

Tidak hanya tembok saja yang masih tampak rupa aslinya. Di bagian luar masjid yang juga terdapat sebuah bedug berukuran sedang dan berbahan kayu jati, lantai asli masjid ketika pertama kali didirikan pun masih ada. Lantai batu tersebut letaknya di bawah lantai yang kini berbahan keramik. Di antara keduanya juga diberi penghalang oleh sebuah kaca berbahan tebal. Hanya saja, mungkin dikarenakan oleh faktor usia yang telah menginjak hitungan abad, menjadikan lantai asli ini sudah terlihat tidak terlalu jelas lagi.

Seperti masjid-masjid lain pada umumnya, tidak banyak perbedaan yang terlalu menonjol dari masjid Mataram ini. Hanya saja, kita akan sedikit merasa kaget atau terheranheran ketika melihat dua buah mimbar yang terdapat di dalam masjid. Menurut penuturan salah seorang pengurus masjid, H.Kardiyo (77 thn), sebuah mimbar yang terbuat dari bahan besi tersebut merupakan hadiah dari Adipati Palembang sebagai bentuk pengakuan terhadap Masjid Mataram. Mimbar yang berusia antara tiga hingga empat abad ini lebih sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan rutin masjid dibandingkan dengan mimbar satunya yang berbahan kayu. Misalnya saja untuk khutbah shalat Jum’at. Sedangkan yang satunya lagi hanya digunakan untuk acara seperti kuliah shubuh.

Selain itu, masjid ini juga selalu dikunci rapat dan hanya akan dibuka ketika tiba menjelang waktu shalat. Dan setelah selesai waktu shalat pintunya akan kembali dikunci. Tujuannya, tidak lain adalah demi menjaga keamanan barang inventaris masjid. Karena, berdasar pengalaman, telah sering terjadi kasus kehilangan di dalam masjid. Mulai dari kitab Alqur’an hingga perangkat sound system atau peralatan pengeras suara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s